22 Februari 2017

PT Pindad and Timoney Sign Contract At IDEX for Badak 6x6 Mobility System Upgrade

22 Februari 2017

The Pindad Badak 6x6 is to be updated with a customised Timoney modular driveline, transfer case and steering system. (photo : defence.pk)

NAVAN, Ireland --- At IDEX today, PT Pindad and Timoney announced that they have signed a contract to upgrade the Badak 6x6 with a customised Timoney modular driveline, transfer case and steering system. 

The Badak is a 6x6 vehicle fitted with a CMI Defence two-man turret to provide direct fire support for deployed troops. It has a monocoque hull and is fitted with an independent suspension system. 

The vehicle has a novel powerpack packaging solution that enables internal space to be maximised and has a special front mounted transfer box inputted to the first axle. This provides the vehicle with greater space to house the turret system. Timoney has designed a bespoke driveline packaging solution to meet this requirement. 

"The engineering requirements of the PT Pindad Badak has capitalised on our 50 years' experience of developing mobility solutions," said Shane O'Neill, Chief Executive of Timoney. 

"The design brings together our modular approach to meeting customer requirements together with our driveline expertise and we have also designed a new steering system and transfer box to provide PT Pindad with the ultimate solution to meet their mobility requirements," added O'Neill. 

Timoney driveline solutions are based on modular designs which can be customised to suit individual vehicle needs. They can be matched with Timoney's transfer cases and steering systems or be part of a complete under the hull mobility solution. 


Timoney Technology is a global leader in the fields of vehicle driveline technology and are specialists in the area of independent suspensions; steering systems; specialist drive solutions; transfer cases; vehicle systems engineering; vehicle dynamics, whole body vibration analysis, complete vehicle design and turnkey solutions. Based in Navan, Co. Meath, Ireland and celebrating 50 years in business, the company has exported solutions to over 40 countries either directly or through its partners. 

(Timoney Technology)

2 More FA-50PH Jet Fighters Arrived

22 Februari 2017


Philippine Air Force's FA-50PH nos. 005 and 006 upon arrival in Taiwan en route to the Philippines (photo : Han chia ho Peter)

PH Air Force fifth, sixth supersonic jets arrive today

Arrival ceremony for Philippine Air Force’s fifth and sixth South Korea-made FA-50PH “Fighting Eagle” (005 and 006) was conducted today in Clark Air Base, Pampanga. The ceremony started at 11 am. FA-50PH with tail number 005 touched down 11:05 am, while 006 touched down 11:07.

The Philippines has 12-plane order from Korea Aerospace Industries (KAI) worth PHP18.9 billion. FA-50PH aircraft are Mach 1.5 capable.

The 1st and 2nd FA-50PHs arrived in November 2015, while the 4th and 3rd arrived a year after. The remaining six aircraft on order are expected to be delivered within this year.

PAF’s FA-50PHs were recently blooded in combat during the surgical air and artillery strike that wounded Abu Sayyaf Group commander Isnilon Hapilon last January 26.

The FA-50PH has a top speed of Mach 1.5 or one-and-a-half times the speed of sound and is capable of being fitted air-to-air missiles, including the AIM-9 “Sidewinder” air-to-air and heat-seeking missiles, aside from light automatic cannons.


It will act as the country’s interim fighter until the Air Force gets enough experience in operating fast jet assets and budget allocation for more capable fighter aircraft. (Update)

FA-50PH with tail number 005 and 006 in Clark Air Base (photo : Rappler)

Air Force now has six ‘Fighting Eagles’

With the delivery of additional two South Korean-made FA-50PH “Fighting Eagle” jets, the Philippine Air Force now has six supersonic aircraft that can reach the speed of Mach 1.5 (1852.2 km/hour) or 1.5 times faster than the speed of sound.

FA-50PH with tail number 005 touched down 11:05 am in Clark Air Base, while 006 touched down at 11:07, February 22.

The Philippine Air Force ordered 12 units of FA-50PHs from Korea Aerospace Industries (KAI) worth 18.9 billion pesos.

The 1st and 2nd FA-50PHs arrived in November 2015, while the 4th and 3rd arrived a year after. The remaining six aircraft on order are expected to be delivered within this year.

These aircraft will act as the country’s interim fighter until the Philippine Air Force gets enough experience in operating fast jet assets and budget allocation for more capable fighter aircraft.


PAF’s FA-50PHs were recently blooded in combat during the surgical air and artillery strike that wounded Abu Sayyaf Group commander Isnilon Hapilon last January 26. (Update)

Gaet Abu Dhabi, PT PAL Penetrasi Pasar Global

22 Februari 2017


Kapal LPD bauatan PT PAL (photo : Kaskus Militer)

LONDON. PT PAL Indonesia, perusahaan galangan kapal terkemuka Indonesia, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Abu Dhabi Ship Building (ADSB), perusahaan penyedia konstruksi dan layanan perbaikan untuk kapal angkatan laut, militer, dan komersial di Timur Tengah.

MoU itu ditandatangani kedua perusahaan disela Naval Defence Exhibition and Conference (NAVDEX) 2017, bagian dari International Defence Exhibition and Conference (IDEX) yang diadakan di Abu Dhabi dari tanggal 19 hingga 23 Februari ini.

Kedua perusahaan akan berkolaborasi dan menggabungkan kemampuan dan sumber daya untuk menciptakan peluang dalam bisnis galangan kapal, pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan armada laut untuk Indonesia dan Uni Emirat Arab pada produk unggulan seperti Fast Patrol Boat, Strategic Sealift Vessel dan Light Frigate, demikian keterangan KBRI Abu Dhabi yang diterima Antara London, Selasa (21/2).

CEO dari Abu Dhabi Ship Building, Dr Khaled Al Mazrouei mengatakan Abu Dhabi merasa bangga mampu berperan pada penataan jaringan global dari mitra strategis dari berbagai negara.

"Kemitraan kami dengan PT PAL merupakan salah satu pilihan yang cermat atas keahlian, pengetahuan dan reputasi mereka pada kapal angkatan laut, militer dan komersial. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut untuk pelayanan yang lebih baik pada pelanggan kami dimasa depan dan untuk kemajuan hubungan bilateral antara UEA dan Indonesia, " ujar Dr Khaled Al Mazrouei.

Sementara itu Direktur Utama PT PAL Indonesia Muhammad Firmansyah Arifin mengatakan bahwa hal ini merupakan strategi perusahaan untuk memperluas pengembangan bisnis di pasar internasional. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat jaringan global dan memperluas sinergi dengan mitra strategis global.

"Dengan adanya kesamaan dalam portofolio bisnis di bidang industri pertahanan, kemitraan dengan Abu Dhabi Ship Building diyakini akan menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan di kedua belah pihak," ujarnya.

Dubes RI Husin Bagis mengatakan sesuai dengan misi KBRI untuk meningkatkan nilai dagang antara Indonesia dan UEA, ekspor produk-produk teknologi pertahanan yang sudah ternama di dunia, kompetitif dan unggul adalah salah satu cara untuk mencapai hal tersebut.

"Selain itu, saya merasa hubungan yang semakin erat antara Jakarta dan Abu Dhabi jelas terlihat dari perdagangan produk-produk teknologi pertahanan," lanjut Duta Besar RI Husin Bagis.

Sebelumnya, PT PAL Indonesia dan IGG-PEA menandatangani joint agreement di bidang pemasaran global. Sebagai implementasi dari strategi untuk meningkatkan jaringan global, PT PAL Indonesia ingin membangun kemitraan dan menjadi bagian dari IGG, penyedia sistem pertahanan dan keamanan yang unggul untuk lebih dari 80 negara, termasuk Amerika Serikat.

(Kontan)

Modest Increase for Singapore's 2017 Defence Budget

22 Februari 2017


Defence budget for 2017 is SGD14.2 billion (USD10 billion) (photo : MediaCorp)

Singapore has announced a 2017 defence budget of SGD14.2 billion (USD10 billion), a modest increase over spending the previous year.

Announced by the government on 20 February, the allocations represents a 1.6% increase against the initial 2016 defence budget of SGD13.97 billion, which was subsequently revised to SGD13.83 billion, budgetary documents show.

Announcing the budget, Finance Minister Heng Swee Keat said the small increase is indicative of a government requirement to apply a "2% downward adjustment" across all ministries.

Defence is one of four ministries where the 2% adjustment will be phased in over 2017 and 2018, he said. The other three are home affairs, health, and transport.

(Sing Mindef)

Panglima TNI Bahas Rencana Pembelian Helikopter Black Hawk

22 Februari 2017


Helikopter angkut Blackhawk UH-60L (photo : Ralph Duenas)

TNI dan US Army akan Tingkatkan Kerjasama Militer

Jakarta, InfoPublik - TNI dan Angkatan Darat Amerika Serikat  (US Army)  kembali akan meningkatkan hubungan kerjasama di bidang militer.

Hal itu terungkap saat Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menerima kunjungan Commanding General US Army Pasific (USARPAC) General Robert Brown di Mabes TNI, Cilangkap Jakarta, Selasa (21/2).

Dalam pertemuan tersebut, Panglima TNI menjelaskan Jenderal Robert  dalam rangka mempererat hubungan dan kerja sama antara militer Indonesia dan Amerika Serikat “Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik bagi peningkatan hubungan kerjasama militer kedua negara,” jelasnya.

Menurut Gatot,  kawasan laut Indonesia terdapat dua jalur ekonomi yang sangat utama yaitu Selat Malaka dan Selat Sulawesi yang memiliki potensi-potensi kerawanan termasuk aksi terorisme, oleh karena itu pertukaran informasi intelijen sangat dibutuhkan. “TNI harus berkerja sama dengan Amerika Serikat tentang penanganan aksi terorisme, terlebih saat ini kelompok ISIS telah menyebar keluar wilayah, termasuk wilayah Asia Tenggara,” katanya.

Gatot berharap kerja sama militer dengan Amerika Serikat dibidang pendidikan perlu ditingkatkan dimasa yang akan datang untuk mempererat hubungan militer kedua negara. “Ada lebih banyak pertukaran personel TNI untuk mengikuti pendidikan baik militer maupun lembaga lainnya di Amerika Serikat,”harapnya.

Gatot juga mengapresiasi atas bantuan Alutsista F-16 dan Helikopter Serang Apache AH-64, dimana telah mendorong Kasad Jenderal TNI Mulyono untuk membeli helikopter angkut Black Hawk.

Sementara itu, Commanding General USARPAC General Robert B. Brown mengatakan bahwa, sebagai salah satu bangsa dari kawasan Pasifik maka pertemuan dengan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sangat bermanfaat dalam rangka meningkatkan stabilitas dan keamanan.

Menurut Robert pengadaan Helikopter Aphace dan Black Hawk tersebut tidak ada masalah, mengingat telah memperoleh persetujuan dari pihak Amerika Serikat. “Saya yakin bahwa dukungan yang diberikan merupakan kerja sama yang bermanfaat bagi kedua belah pihak,” ujarnya.

Ia menilai Indonesia menduduki tempat khusus di Amerika Serikat, dimana unsur militer Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara akan terus bekerja sama. “Apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada TNI atas dukungan penuh dalam berbagai hal dan pelaksanaan Latihan Bersama (Latma) seperti Garuda Seals,” tuturnya.

Robert B. Brown juga mengatakan , kerja sama dibidang Peacekeeping Operation(PKO)  telah dilaksanakan antara militer Indonesia dan Amerika Serikat dengan sangat baik, bidang lainnya seperti pertukaran dan saling bertukar ahli (Subject Matter Expert Exchange-SMEE) akan mendorong hubungan kedua belah pihak semakin kuat.

Turut mendampingi Panglima TNI, diantaranya Kasad Jenderal TNI Mulyono, Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Benny Indra Pujihastono, Kabais TNI Mayjen TNI Hartomo, Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto, dan Kapuskersin TNI Laksma TNI Tatit Eko Witjaksono. Sedangkan Delegasi dari Amerika Serikat, diantaranya Koorspri Danjen USARPAC Kolonel Mark D. Bieger, Penasehat Kebijakan Luar Negeri USARPAC Mr. Matthew S. Cook, Athan Amerika di Jakarta Kolonel Adrew Marble.

(InfoPublik)

Koarmatim Uji Tempur Fregat KRI RE Martadinata 331

22 Februari 2017

Fregat KRI RE Martadinata 331 (all photos : Damen)

Koarmatim uji tempur kapal perang buatan PAL

Surabaya (ANTARA News) - Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) menguji tempur Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Raden Eddy Martadinata 331, yang merupakan armada perang terbaru hasil produksi industri galangan kapal Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT PAL Indonesia.

Uji tempur berlangsung di Dermaga Madura Koarmatim, Ujung, Surabaya, Selasa, dengan menekankan latihan peperangan pada Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) di atas KRI Raden Eddy Martadinata 331. 

"Prajurit KRI Raden Eddy Martadinata 331 merupakan unsur terbaru milik TNI Angkatan Laut," terang Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Timur (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI I.N.G. Ariawan, di sela latihan.

Ariawan menjelaskan, KRI Raden Eddy Martadinata 331 merupakan kapal perang jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514.



"KRI Raden Eddy Martadinata 331 merupakan salah satu kapal perang jenis PKR pesanan Kementerian Pertahanan RI yang pembuatannya dipercayakan kepada PT PAL Indonesia," ujarnya. 

Dalam pembuatannya, PT PAL Indonesia bekerja sama dengan Dutch Shipbuilder Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) asal Belanda. 

"Hari ini kita lakukan uji tempur, dengan melakukan latihan pengendalian peperangan yang dilaksanakan dari Pusat Informasi Tempur (PIT) KRI Raden Eddy Martadinata 331," terang Ariawan.

Kolonel Laut (P) Agam Endrasmono dipercaya sebagai pengendali peperangan dalam latihan tempur di atas KRI Raden Eddy Martadinata 331, dengan materi latihan peperangan udara dan peperangan atas air.



Tampak sejumlah perwira turut menyaksikan jalannya latihan tempur KRI Raden Eddy Martadinata, di antaranya Irarmatim Kolonel Laut (T) Amrein, Asrena Pangarmatim Kolonel Laut (P) Rony Saleh, Asintel Pangarmatim Kolonel Laut (P) Arif Sumartono, dan Komandan Kolatarmatim Kolonel Laut (P) Octavianus Budi Susanto.

Ariawan mengaku puas dengan pelaksanaan latihan tempur pada armada kapal terbaru buatan PT PAL itu. Dia berpesan kepada seluruh prajurit KRI Raden Eddy Martadinata agar merawat kapal dengan baik.

"Kepada seluruh prajurit KRI Raden Eddy Martadinata 331 agar lebih meningkatkan latihan dan profesionalisme. Gali potensi diri untuk memberikan kemampuan terbaik guna menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," tuturnya. 

(Antara)

21 Februari 2017

Russia will Supply Two "Gepard-3.9" Frigates to Vietnam in mid-2017

21 Februari 2017


A pair of Gepard 3.9 of the Vietnamese Navy (photo : sputnik)

ABU DHABI - RIA Novosti. Russia will supply two "Gepard-3.9" frigates to Vietnam  in mid-2017, he told RIA Novosti in the exhibition of arms IDEX-2017 CEO of the company-manufacturer data vehicles Zelenodolsk Shipyard Renat Mistahov.

"In mid-2017 we plan to complete all their trials and transfer to the customer." "The first couple in the framework of the contract we have set in 2011-2012, today we are ready to ship to the customer a couple more" Cheetahs, - he said.

Frigates "Gepard-3.9" are designed to handle air, underwater and surface adversary of surface and underwater situation, setting minefields, maintenance and protection of convoys, guarding and patrolling the state borders, the fight against smuggling, poaching and piracy, as well as assistance ships in distress, search and rescue people.

According to the Zelenodolsk Design Bureau, the frigates "Gepard-3.9" with a displacement of about 2.2 tons are equipped with modern missile and artillery, aircraft, anti-submarine weapons and radio, as well as mine and anti-weapons, means of external and internal ship communication, broadcast, visual monitoring and audio communications.

Previously CEO of the Zelenodolsk Shipbuilding Plant named after AM Gorky Renat Mistahov reported that the third "Cheetah" will be sent to Vietnam in August, and the fourth - in September 2016. The first pair of frigates type "Gepard-3.9" was handed over to the Navy in Vietnam in 2011. The parties are currently discussing the construction Zelenodolsk third pair of ships of this type for the Vietnamese Navy.

(RIA Novosti)